Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Senin, 06 Desember 2010

Anjing dan Babi


Anjing: bab, knp loe marah2?

Babi: iya nih njing,.

Anjing: knp? Baby: gini, td pagi guwe kn jalan2, ehh palah nyasar keperkampungan mnsia... nah disana guwe dilempari pake batu sambil diteriaki "Babi Busuk"

Anjing: lah loe kan emang bau busuk?

Baby: y tahu, tp kn g perlu dibusuk2in... lgian pa slah guwe coba? guwe kn cuma lewat, lgian tu jg gara2 nyasar... dn jg guwe g pernah tu nglempari manusia pke batu waktu dia ngrusak kampung guwe...

Anjing: y iya lah GOBLOG... loe kn g pny tangan...

Babi: loh loe ko' nggoblog2in guwe?

Anjing: krn loe goblog

Babi: dasar ANJING loe...

Anjing: loe ko loe ngatain guwe ANJING?

Babi: lah nama loe kn emang anjing?

Anjing: guwe emang anjing, tp g perlu dianjing2in...

AGAMA TAK BISA DILOGIKA?

Oleh: Muhammad Syafiq Najmuddin

Selama ini kita selalu dijejali dengan dogma-dogma yang menjadikan kita budak-budak dalam agama. Kita harus mematuhi semua yang diajarkan di dalam suatu agama tertentu – agama islam bagi penulis – tanpa mengetahui alasan maupun tujuan dari semua dogma atupun doktrin yang diajarkan kepada kita. Jika kita mempertanyakannya, apalagi sampai kita melanggarnya kita akan mendapat predikat ahli bid’ah, munafik, kafir. Tidak menutup kemungkinan juga kita akan mendapat perlakuan kasar. Karena, bagi mereka agama itu “tidak bisa dilogika”.
Benarkah agama tidak bisa dilogika? Jika agama tidak bisa dilogika maka benar apa yang dikatakan Marx bahwa agama itu “Candu”. Agama hanya menjadi pelipur lara dan tempat manusia berpasrah diri – bahasa lain menyerah – kepada Tuhannya. Tempat para manusia lari dari realitas kehidupan yang sulit. Tempat manusia berkeluh kesah dan mengharap solusi yang dating dari langit. Dan lebih parah, agama akan selalu menjadi legitimisi sebuah hegemoni kekuasaan yang buruk. Cukup dengan berkata “ini perintah Tuhan” atau “ini larangan Tuhan” maka legitimasi didapatkan oleh mereka yang ingin mendapatkan pembenaran dari apa yang akan atau sudah dia lakukan, walaupun perbuatannya tidak bisa diterima oleh akal sehat.
Jika demikian yang terjadi maka agama harus buang jauh-jauh dari kehidupan umat manusia. Karena agama hanya akan semakin menyesatkan manusia. Agama yang tidak rasional, tidak bisa dilogika adalah tak lebih dari sampah busuk yang harus dimusnahkan. Semua dogma dan doktrin yang muncul dari agama haruslah bisa berimplikasi tidak hanya di akhirat tetapi juga berimplikasi positif di dunia. Agama tidak boleh menjadikan manusia individualis bahkan anarkis, agama harus bisa menciptakan dimensi keadilan bagi kehidupan umat manusia.
Selama ini janji kehidupan akhirat bagi saya tak lebih seperti obat sakit kepala dan kehidupan yang sulit pemeluknya adalah sakit kepalanya. Jika pemeluknya sakit kepala maka mereka akan minum obat itu, jika mereka sudah sembuh mereka akan melupakannya, jika mereka sakit lagi maka mereka akan memakannya kembali. Sehingga pada hakekatnya obat itu tidak bisa menyembuhkan penyakit sang penderita. Obat itu hanya menyembuhkan sementara saja.
Lihatlah realitas sekarang ini, para pemeluk agama yang taat selalu menjadi pecundang dalam kehidupannya. Mereka hanyalah para petani yang selalu diperas oleh para tengkulak, mereka hanyalah para kyai/ustadz yang selalu menjadi bulan-bulanan para politisi ketika moment pemilu tiba. Jika demikian yang terjadi, maka untuk apa selama ini agama ada? Atas nama agama lah para manusia saling membunuh, kebencian menyebar di mana-mana., Antar pemeluk agama saling membununh, lihatlah tragedi perang salib, holocaust, Poso, Ambon, dan masih banyak tempat lainnya. Mereka semua selalu berdalih pembunuhan yang mereka lakukan selalu atas perintah Tuhan.
Semua itu terjadi karena para pemeluk agama selalu menjalankan agamanya tanpa akal sehat, semua hanya didasarkan pada taqlid yang membabi buta. Ya bagi mereka untuk apa menggunakan akal sehat, toh agama tidak bisa dilogika, jadi asal ada teks “suci” atau fatwa berarti semua tindakan yang akan/sedang/sudah dilakukan berarti mendapat pembenaran. Dan sekali lagi, agama di sini tak lebih dari sekedar “candu” bagi masyarakat.

Minggu, 16 Mei 2010

Otokritik

Kenapa tidak ada yang melakukan kritik secara terbuka - karena tidak menutup kemungkinan kritik tidak dilakukan secara terbuka - kepada kita dalam bentuk apapun? Entah tulisan atau yang lainya? Apakah karena kita memang sudah sangat sempurna sehingga tidak ada satupun yang perlu dikritisi dari kebijakan kita baik di intern organisasi maupun ekstern organisasi? Atau karena memang kita semua terlalu apatis? atau dengan kata lain "ahhh yang penting saya tidak dirugikan"? Atau sebenarnya ada yang ingin mengkritisi tetapi terlalu takut untuk melakukannya?
Menjawab pertanyaan yang pertama, apakah kita sudah sangat sempurna? Tentunya jawaban ini akan terlalu subjektif untuk dijawab. Jawaban yang diberikan tentunya akan sangat beragam, tergantung siapa yang berbicara, latar belakangnya, dan juga apa kepentingannya. Oleh sebab itu, mungkin untuk alasan yang pertama ini kurang masuk akal digunakan sebagai alasan untuk tidak mengkritik.
Yang kedua, Apakah kita terlalu apatis? Mungkin, alasan ini cukup masuk akal, karena banyak dari kawan-kawan kita cenderung bersikap masa bodoh, atau paling banter aktif berorganisasi tetapi hanya sebatas sebagai "buruh" yang tidak tahu apa-apa. yang penting kita aktif, punya kegiatan sehingga organisasi terlihat punya kegiatan, tanpa tahu apakah kegiatan itu sesua dengan visi misi, dan apakah kegiatan itu sesuai dengan kebutuhan.
Atau yang ketiga, mereka terlalu takut untuk melakukan kritik? Alasan ini mungkin ada benarnya juga. Di sinilah kita harus melakukan otokritik bersama, apakah selama ini "kita" terlalu arogan sehingga tidak ada yang berani untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh "kita"? Baik yang mengkritisi itu kawan-kawan di luar organisasi kita atau bahkan orang yang ada di organisasi itu sendiri. Atau apakah mereka para pengkritik terlalu pengecut untuk melakukan kritik baik itu lewat tulisan ataupun yang lainnya?
Tak ada kritik dalam organisasi bukanlah sebuah hal yang menggembirakan, justru itu pintu bagi kemunduran atau bahkan kehancuran dalam sebuah organisasi. Kalau kita sudah merasa benar, sudah merasa pintar, sudah merasa sempurna sehingga kita tidak perlu ada kritik keada kita, lalu buat apa kita belajar di organisasi?
Wallahu a'lam Bishshowab.